Rumah yang berada jauh dipedalaman, mengharuskan saya
menaiki moda transportasi bernama Ojek. Sebenarnya ada pilihan lain, saya bisa
naik angkutan umum (angkot) bernomor punggung d.28 jurusan Citayam-Ciputat.
Mobilnya berwarna ungu, ungu muda, ungu tua, sampai ungu ke pink-pink an.
Sayangnya angkot ini tidak bisa mengantar saya sampai bibir rumah, saya harus
berjalan sekitar 5-8 menit. Dan yang lebih disayangkan lagi, angkutan ini
luamaa datangnya juga lelet jalannya. Haah!!
Saking seringnya naik ojek, saya bak primadona kalau turun
dari bus/angkot. Bapak-bapak ojek di bibir BBS (nama gang setelah UIN) terutama
di sayap kirinya, langsung mengacungkan tangan, memanggil nama saya atau
memanggil nama perumahan saya. Saya terkadang suka bingung harus memilih bapak
mana yang hendak saya tumpangi. Lucunya, kalau saya memilih salah satu dari
mereka –biasanya saya memilih orang yang sudah saya kenal atau familiar dimata
saya- bapak ojek lainnya bilang begini; “Yah, nisa sombong nih sekarang. Gak
inget sama abang”, “Besok sama abang ya, neng!”. Ada juga yang memicingkan
mata, menghela nafas sambil membetulkan posisi motornya. Sampai-sampai gak enak
hati saya dibuatnya. Hahahaha!!